Assalammualikum wr.wb
Saya akan mencoba menjawab
pertanyaan yang telah di berikan
Nama: Elvira rosa
Nim: A1C114043
soal
:
Pada alkil halide sekunder (20) terjadi reaksi bersaing antara reaksi eliminasi dan subtitusi. Kapan terjadi reaksi subtitusi dan kapan terjadi reaksi eliminasi ?
Pada alkil halide sekunder (20) terjadi reaksi bersaing antara reaksi eliminasi dan subtitusi. Kapan terjadi reaksi subtitusi dan kapan terjadi reaksi eliminasi ?
C. Reaksi-Reaksi Bersaingan
Sebuah ion hidroksida atau alkoksida (RO-) dapat bereaksis ebagai
suatu nukleofil dalam suatu reaksi eliminasi. Tipe reaksi mana yang sebenarnya
terjadi bergantung pada sejumlah faktor, seperti struktur alkil halida (primer
(primer 1o, sekunder 2o ataukah tersier 3o),
kuat basa, macam pelarut dan temperature. Metal halida dan alkil halida primer
cenderung menghasilkan produk substitusi, bukan produk eliminasi. Pada kondisi
yang setara, alkil halida tersier terutama menghasilkan produk eliminasi, dan
bukan produk substitusi. Alkil halida sekunder bersifat diantaranya :
perbanbandingan produk substitusi dan produk eliminasi sangatlah bergantung
pada kondisi eksprerimen.
ditinjau reaksi antara
alkil halida dengan kalium hidroksida yang dilarutkan dalam metil alkohol.
Nukleofilnya adalah ion hidroksida, OH-, yaitu nukleofil kuat dan sekaligus
adalah basa kuat. Pelarut alkohol kurang polar jika dibandingkan dengan air.
Keadaan-keadaan ini menguntungkan proses-proses SN2 dan E2 jika dibandingkan
dengan SN1 dan E1. Misalnya, gugus alkil pada alkil halida adalah primer, yaitu
1-bromobutana. Kedua proses dapat terjadi.
Hasilnya adalah
campuran 1-butanol dan 1-butena. Reaksi SN2 cenderung terjadi jika digunakan
pelarut yang lebih polar (air), konsentrasi basa yang sedang, dan suhu sedang.
Reaksi E2, cenderung terjadi jika digunakan pelarut yang kurang polar,
konsentrasi basa yang tinggi, dan suhu tinggi. Seandainya kita mengganti alkil
halida primer menjadi tersier, reaksi substitusi akan terhambat (ingat, urutan
reaktivitas untuk reaktivitas SN2 adalah 1o >2o >> 3o). Tetapi, reaksi
eliminasi akan cenderung terjadi karena hasilnya adalah alkena yang lebih tersubtitusi.
Pada kenyataannya, dengan t-butil bromida, hanya proses E2 yang terjadi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi substitusi sama halnya dengan reaksi
eliminasi, antara lain :
a) Struktur alkil halida, reaktivitas
alkil halida dalam reaksi substitusi dapat mempengaruhi mekanisme reaksi.
Reaksi substitusi SN, laju alkil halida c, jadi alkil halida yang dapat
melakukan reaksi SN, adalah alkil halida tersier dan sekunder. Alkil halida
primer dapat melakukan reaksi SN, dalam bentuk alilik dan benzilik.
b) Learing group x-, dalam
reaksi substitusi senyawa alkil halida ion halida merupakan basa yang sangat
lemah. Dalam reaksi substitusi ion halida x-, ion halida I-
merupakan ion yang mudah disubstitusikan kemudian diikuti dengan ion Br, cℓ dan
yang terakhir F. Jadi kereaktifan alkil halida RI > Rbr > RCℓ >
RF. Dengan kata lain ion F- merupakan basa yang paling kuat diantara
ion halida. Hal ini disebabkan energi ikatan C – F > C - Cℓ > C-
Br > C – I, dengan kata lain semakin kecil energi ikatan C – X semakin mudah
ion halida tersebut dilepas.
c) Nukleofilik atau basa
Pada suasana yang sesuai basa dapat berfungsi sebagai nukleofil, sebaliknya
semua nukleofil dapat bertindak basa. Dalam reaksi kimia, nukleofil / basa /
(pereaksi atau reakton) bereaksi dengan menyumbangkan sepasang elektron untuk
membentuk ikatan sigma yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar