Reaksi
alkali halide
Alkil
halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya diganti
dengan halogen. Tiap-tiap hidrogen dalam hidrokarbon potensil digantikan dengan
halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua hidrogennya dapat diganti.
Senyawa terfluorinasi sempurna yang dikenal sebagai fluorokarbon, cukup menarik
karena kestabilannya pada suhu tinggi. Perlu dicatat bahwa halogen adalah
atom-atom berelektrogenatif tinggi dan hanya kekurangan satu elektron untuk
mencapai konfigurasi gas mulia. Oleh itu halogen dapat membentuk ikatan kovalen
tunggal atau ionik yang stabil. Sebelum membahas lebih lanjut
mengenai reaksi-reaksi halida, kita kenal dulu mengenai teori asam basa.
1. Teori
asam basa lewis
Asam adalah penerima electron,
sedangkan basa adalah pemberi electron
Semua zat yang didefinisikan sebagai
asam dalam teori Arrhenius juga merupakan asam dalam kerangka teori Lewis
karena proton adalah akseptor pasangan elektron . Dalam reaksi netralisasi
proton membentuk ikatan koordinat dengan ion hidroksida.
H+ + OH– H2O
Situasi ini sama dengan reaksi fasa
gas yang pertama diterima sebagai reaksi asam basa dalam kerangka teori
Bronsted dan Lowry.
HCl(g)
+ NH3(g) NH4Cl(s)
Dalam reaksi ini, proton dari HCl
membentuk ikatan koordinat dengan pasangan elektron bebas atom nitrogen.
Keuntungan utama teori asam basa Lewis terletak pada fakta bahwa beberapa reaksi yang tidak dianggap sebagai reaksi asam basa dalam kerangka teori Arrhenius dan Bronsted Lowry terbukti sebagai reaksi asam basa dalam teori Lewis. Sebagai contoh reakasi antara boron trifluorida BF3 dan ion fluorida F–.
Keuntungan utama teori asam basa Lewis terletak pada fakta bahwa beberapa reaksi yang tidak dianggap sebagai reaksi asam basa dalam kerangka teori Arrhenius dan Bronsted Lowry terbukti sebagai reaksi asam basa dalam teori Lewis. Sebagai contoh reakasi antara boron trifluorida BF3 dan ion fluorida F–.
BF3 + F––> BF4–
2. Teori
asam basa Arrhenius
Asam adalah yang menghasilkan ion
H+, sedangkan basa adalah yang menghasilkan ion OH-
HCl
+ aq –> H+(aq) + Cl–(aq)
NaOH
+ aq –> Na+(aq) + OH–(aq)
3. Teori
asam basa bronstend-lowry
Asam adalah pemberi proton,
sedangkan basa adalah penerima proton
Teori Bronsted dan Lowry asam: zat
yang menghasilkan dan mendonorkan proton (H+) pada zat lain basa: zat yang
dapat menerima proton (H+) dari zat lain.
Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai reaksi asam basa, yakni
Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai reaksi asam basa, yakni
HCl(g)
+ NH3(g) –>NH4Cl(s)
simbol (g) dan (s) menyatakan zat
berwujud gas dan padat. Hidrogen khlorida mendonorkan proton pada amonia dan
berperan sebagai asam.
Menurut teori Bronsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya, bila zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan sebagai basa. Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
Menurut teori Bronsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya, bila zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan sebagai basa. Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
Senyawa alkil halida cendrung
mengalami polarisasi karena perbedaan keelektronegatifan. Dalam reaksi alkil
halide pun ada yang di sebut nukleofil. Nukleofil itu sendiri adalah sebuah ion
yang akan tertarik kuat ke sebuah daerah yang bemuatan positif pada sesuatu
lain. Nukleofil ini yang akan menentukan reaksi alkil halide dapat terjadi
subsitusi atau eliminasi.
Reaksi walden
Pada reaksi walden ada yang di katakana sebagai pusat kiral, pusat kiral itu
sendiri adalah atom C yang dapat mengikat 4 gugus yang berbeda. Contohnya atom
C dapat mengikat H, Br, Cl, F. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
:
Alkil halida paling
banyak ditemui sebagai zat antara dalam sintesis. Mereka dengan mudah diubah ke
dalam berbagai jenis senyawa lain, dan dapat diperoleh melalui banyak cara.
Reaksi alkil halida yang banyak itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok,
yaitu reaksi substitusi dan reaksi eliminasi.
Reaksi
substitusi nukleofilik
Suatu nukleofil (Z:)
menyerang alkil halida pada atom karbon hibrida-sp3 yang mengikat halogen (X),
menyebabkan terusirnya halogen oleh nukleofil. Halogen yang terusir disebut
gugus pergi. Nukleofil harus mengandung pasangan electron bebas yang digunakan
untuk membentuk ikatan baru dengan karbon. Hal ini memungkinkan gugus pergi
terlepas dengan membawa pasangan elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan.
Ada dua persamaan umum yang dapat dituliskan:
dilambangkan dengan SN2 adan SN1. Bagian SN menunjukkan substitusi nukleofilik.
Mekanisme reaksi SN 1:
Mekanisme SN2
Mekanisme SN2 adalah proses satu
tahap yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Nukleofil X. Pada keadaan transisi, nukleofil dan gugus¾menyerang
dari belakang ikatan C pergi berasosiasi dengan karbon di mana substitusi akan
terjadi. Pada saat gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan elektron,
nukleofil memberikan pasangan elektronnya untuk dijadikan pasangan elektron
dengan karbon.
Notasi 2
menyatakan bahwa reaksi adalah bimolekuler, yaitu nukleofil dan substrat
terlibat dalam langkah penentu kecepatan reaksi dalam mekanisme reaksi. Adapun
ciri reaksi SN2 adalah:
1. Karena nukleofil dan substrat
terlibat dalam langkah penentu kecepatan reaksi, maka kecepatan reaksi
tergantung pada konsentrasi kedua spesies tersebut.
2. Reaksi terjadi dengan pembalikan
(inversi) konfigurasi. Misalnya jika kita mereaksikan (R)-2-bromobutana dengan
natrium hidroksida, akan diperoleh (S)- 2-butanol.
3 L bereaksi melalui mekanisme SN2,
reaksi terjadi lebih cepat-Jika substrat R apabila R merupakan
gugus metil atau primer, dan lambat jika R adalah gugus tersier. Gugus R
sekunder mempunyai kecepatan pertengahan. Alasan untuk urutan ini adalah adanya
efek rintangan sterik. Rintangan sterik gugus R meningkat dari metil <
primer < sekunder < tersier. Jadi kecenderungan reaksi SN2 terjadi pada
alkil halida adalah: metil > primer > sekunder >> tersier.
Proses SN2
Reaksi melibatkan keadaan transisi dimana kedua reaktan
berada bersama-sama
Keadaan transisi reaksi SN2 memiliki susunan atom karbon
planar dari sisa tiga gugus
Mungkin hanya ini yang dapat saya bahas pada blog saya kali
ini. saya masih membutuhkan bantuan teman teman untuk lebih memahami materi ini, ada hal yang
tidak saya ketahui dari materi ini. bagaimana bisa OH dapat di gantikan oleh Cl
sedangkan sifat merekan sama-sama basa, mohon penjelasannya. Terima kasih teman
..
Mohon maaf sebelumnya
saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari elvira,
BalasHapusOH dan Cl sifat nya sama-sama basa, kita bisa melihatnya dari pH. pH Cl lebih tinggi saat OH mengikat proton, sedangkan OH pHnya lebih rendah saat Cl mengikat proton. dan dalam pelarut yang bersifat nonpolar sangat tidak kondusif bagi basa OH, sehingga OH mudah digantikan Cl dan juga dipengaruhi gaya van derwalls pada Cl.
semoga membantu :)
Terimakasih atas jawaban nya risna:)
BalasHapusBaiklah, saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. OH- dan Cl- sama-sama bersifat basa kuat, tetapi mengapa OH- dapat menggantikan Cl-. nah, hal itu dikarenak adanya pengaruh dari sifat polar dan nonpolarnya(Eter=nonpolar). jika ikatan tersebut adalah nonpolar, maka akan terjadi Gaya Van Der Waals dan jika ikatan tersebut adalah ikatan polar, maka akan terjadi ikatan hidroden.
BalasHapusTerimaksih nadia atas jawaban nya
BalasHapus